Media Sosial

Senin, 05 Oktober 2026

Memahami Tingkatan Nafsu dan Pentingnya Sanad Berguru dalam Tasawuf

Banjarkemantren, Sidoarjo — Pengajian rutin kajian Kitab Imdad Arbabin Nuha kembali digelar di Masjid Baiturrohim Banjarkemantren . Kajian tasawuf dan keorganisasian tarekat ini diampu oleh KH. Syaiful Hadi, Rois Syuriyah JATMAN (Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah) Ghusniyah Buduran, Sidoarjo .

Dalam ceramahnya yang diselingi dengan humor khas Nahdliyin, KH. Syaiful Hadi membedah pembahasan seputar tingkatan nafsu manusia serta hakikat ajaran tasawuf dan tarekat yang bersifat batiniah (intrinsik) .

Pengorganisasian JATMAN dan Pemetaan Ranting

Di awal pemaparannya, beliau menyampaikan perkembangan struktur JATMAN di Kecamatan Buduran. Dari 16 desa yang ada, saat ini telah terbentuk 5 ranting/syaf  Beliau menegaskan bahwa amalan keagamaan Jam'iyyah Nahdlatul Ulama pada hakikatnya bersumber dari ajaran tasawuf yang terorganisir melalui wadah tarekat .

Mengutip hasil diskusinya bersama Dr. KH. Habib, beliau menjelaskan bahwa Kitab Imdad Arbabin Nuha merupakan ringkasan dari kitab monumental karya Imam Al-Ghazali, yaitu Bidayatul Hidayah .

Mengenal Tingkatan Nafsu Manusia

Mengacu pada halaman 51 Kitab Imdad Arbabin Nuha, KH. Syaiful Hadi memaparkan tingkatan-tingkatan nafsu yang dilalui seorang hamba dalam proses pembersihan jiwa (tazkiyatun nufs) :

Nafsu Ammarah (QS. Yusuf: 53)

Nafsu tingkatan dasar yang cenderung mendorong manusia pada keburukan . Ciri-cirinya antara lain sifat kikir (bukhlun), serakah (khirsun), dengki (hasud), dan meluapkan syahwat .

Nafsu Lawwamah (QS. Al-Qiyamah: 2)

Nafsu yang mulai menyadari keburukan dan sering menyesali perbuatannya . Ciri-cirinya antara lain sifat licik (al-makru), ujub (al-ujbu), dan gemar menggunjing (al-ghibah) .

Nafsu Mulhamah (QS. Asy-Syams: 8)

Nafsu yang telah menerima ilham berupa kebaikan dan ketaqwaan .

Nafsu Mutmainnah (QS. Al-Fajr: 27)

Jiwa yang tenang dan stabil [18:11, 22:10]. Seseorang yang telah mencapai level ini ditandai dengan tentramnya batin (as-sirr) dan memiliki prajurit/sifat-sifat terpuji (junuduha) :

Al-Jud (Dermawan): Suka memberi manfaat nyata kepada orang lain .

At-Tawakal: Berserah diri dan percaya penuh atas apa yang ada di sisi Allah .

Al-Ibadah: Selalu beribadah dan mengagungkan Allah SWT .

Asy-Syukru (Syukur): Senantiasa bersyukur baik secara lisan, hati, maupun perbuatan .

Ar-Rida: Lapang dada dan bahagia menerima takdir Allah, baik yang manis maupun yang pahit .

Al-Khasyyan: Memiliki rasa takut dan wibawa kepada keagungan Allah SWT .

Kunci Mencapai Nafsu Mutmainnah: Pentingnya Berguru dan Berjamaah

Untuk mempertahankan serta meningkatkan kualitas jiwa agar mencapai tingkat mutmainnah, KH. Syaiful Hadi menekankan tiga syarat utama :

Bersandar pada Guru Mursyid (Waslan ila Syaikhihi): Belajar ilmu agama dan menempuh jalan tarekat wajib memiliki guru/mursyid yang bersanad [36:15, 36:29]. Beliau mengingatkan agar masyarakat tidak belajar ilmu spiritual secara sembarangan dari internet/YouTube tanpa bimbingan guru .

Dawai Murni Istiqomah Ber-Mujahadah (Mulazamatul Mujahadah): Bersungguh-sungguh melatih diri melakukan laku-laku terpuji .

Mencari Lingkungan dan Teman Ibadah (Khalaqah/JATMAN): Menempuh jalan menuju Allah memerlukan pertemanan yang saling mendukun dan merangsang keimanan [38:39, 38:53]. Beliau mengutip petuah Kitab Al-Hikam agar tidak bersahabat dengan orang yang kondisinya tidak membangkitkan semangat menuju Allah .


Sumber Video Utama:

https://youtu.be/xj59tRAUJZc?si=pSQs-81CrKUQO9ZK

Tidak ada komentar:

Posting Komentar